Get Adobe Flash player
Side Bar



Memuat

Menghidupkan Kembali Tradisi Salaf

PP MUS, Sarang – pengajian KH Muhammad Said Abdurrohim kembali menghadiran nuansa baru. Selesai membacakan kitab Ihya’ Ulumuddin karia al-Ghozaly tiga tahun terakhir, beliau berinisiatif ‘mendua’ dengan ringkasan kitab fenomenal itu. Adalah kitab “Mauidhotul Mukminin”, yang dipilih beliau untuk menggantikan kajian setiap pagi itu.

“kitab ini sangat penting sekali dikaji dan kemudian untuk diamalkan bagi semua tholibul ilmi,” komentar beliau dalam pembacaan muqoddimah pada Ahad (15/1/2012) kemarin. Kandungan kitab ini adalah saduran dari kitab fiqh ‘semi’ tasawwuf karia ulama bergelar hujjatul Islam itu. Tidak ada saduran dari kitab lain. Bahkan urutan-urutannya pun sesuai dengan kitab aslinya. Hal itu dapat dilihat oleh para pembaca, selain juga telah disinggung pengarangnya sendiri, syaikh Jamaluddin ibn Muhammad al-Qosimy.

Kemudian seorang santri yang benar-benar ingin memperoleh barokah serta manfaat ilmunya, haruslah mengimbangi dengan amal perbuatannya. Tidak sekedar belajar, akhlaq pun sangat perlu diperhatikan. “Jadi santri itu disamping belajar syariat, juga harus belajar tasawwuf,” sambung yai Said dalam petuah beliau ketika membuka pengajian.

Beliau menambahkan, “barangsiapa yang belajar fiqh tanpa tasawwuf nisacaya ia akan menjadi fasiq. Begitupun orang yang belajar tasawwuf tanpa belajar fiqh maka dia adalah seorang kafir zindiq.”

Yang menarik dari pengajian ini adalah, romo kyai Said bermaksud menguri-uri kembali tradisi salaf yang akhir-akhir ini hampir punah, sorogan. Ya. Metodologi membaca di depan guru adalah salah satu metode paling efektif dalam proses ta’lim wa ta’allum. Disamping karena tradisi seperti itu telah dilakukan para salafuna as-sholih.

Selain pada itu, sang pembaca diwajibkan mengartikannya dalam bahasa indonesia. Dan semua itu disimak, ditelaah dan dipantau langsung oleh beliau KH Muhammad Said Abdurrohim. Beliau berharap agar pengajian ini dapat menjembatani rekan-rekan santri untuk melatih dirinya dalam memahami, menyampaikan, dan mengkritisi sebuah teks. “Karena, diantara kesekian banyak kelemahan kita adalah hal-hal yang demikian itu,” tandas beliau.

Banyak sekali harapan beliau dalam menuangkan ide-idenya untuk mendidik santri yang benar-benar mumpuni dalam pelbagai bidang. Semoga Allah senantiasa mengiringi langkah para santri dalam ber-tafaqquh fiddin. [*]

Terbaru

Halaman Populer