Memuat
|
Balagh Ramadhan
Menengok ‘Balagh Ramadlan’ di PP MUS
Sarang – tradisi mengaji kilatan yang diselenggarakan setiap bulan puasa di pondok-pondok pesantren salaf, kembali ramai di sana sini. Tidak terkecuali di PP MUS Sarang Rembang sendiri. Tradisi yang sudah turun temurun ini memang senantiasa dilestarikan sebagai upaya tafaqquh fiddin bagi semua kalangan. Terlebih di bulan suci ini semua amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah swt.
Kegiatan rutinan ini diharapkan dapat membentuk karakter belajar yang tidak kenal lelah bagi para muta’allimin. Karena untuk beraktifitas dengan keadaan menahan lapar dan dahaga seharian tentu perlu usaha dan etos serta minat yang kuat. Tanpa ketiga hal itu tentu tidak akan terlaksana dengan baik. terlebih di daerah pesisir, seperti di sarang, yang ketika siang hari tiba suhunya dapat mencapai 38 derajat celcius. Seperti biasanya para masyayikh di pondok pesantren Sarang pun membacakan kitab salaf yang telah beliau pilihkan untuk dikaji bersama. Tentu dengan alokasi waktu dan kebijakan di masing –masing majlis beliau. Di PP MUS sendiri, ada beberapa pengajian kitab yang dibaca oleh KH M Said, KH Faishol Mu’ith, KH M Ahdal. Para santri peserta ‘Balagh Ramadlan’ di pesantren yang diasuh KH M Said Abdurrohim ini, berasal dari berbagai daerah dan pesantren-pesantren lain di seantero tanah jawa maupun luar jawa. Bahkan, pada edisi Ramadlan kali ini seluruh kamar yang tersedia hampir penuh sesak dijejali para santri yang datang. Kenyataan itu sangat terlihat saat jama’ah sholat maktubah di musholla pondok, yang sampai muntah di teras musholla, kantor dan ndalem. Tercatat, lebih dari 500 santri yang menetap di pondok. “Alhamdulillah, animo masyarakat untuk ta’allum ilmu agama masih kuat. Terbukti dengan banyaknya santri yang mengikuti ngaji posonan separti sekarang ini,” ucap salah satu santri senior yang enggan disebutkan namanya. Kehadiran mereka memang sangat membahagiakan, mengingat kegersangan ulama saat ini yang semakin hari semakin langka. Dengan begitu, sangat diharapkan para santri dapat mengikuti kegiatan ini dengan penuh rasa tanggung jawab. Kegiatan ngaji kilatan yang telah dimulai sejak malam puasa pertama itu, biasanya akan ditutup dengan ‘sanadan’ yang dilaksanakan pada malam 16 Ramadlan. Yaitu, tepat setelah tahlilan umum dalam rangkaian acara haul mbah Zubair pada sore harinya yang diperingati setiap tanggal 15 Ramadlan. Mengenai sanad yang dibacakan, tergantung kitab apa yang dikaji. Dan juga, sebagai bentuk rasa terima kasih pada sang Pencipta yang telah memberi banyak anugerah, diselenggarakan pula ‘bancaan tasyakuran’ seadanya. Yang terpenting bagi semua kalangan adalah kebersamaan. Semoga kebersamaan ini dapat terulang kelak di Surga Allah swt. Tak ubahnya dengan tahun-tahun sebelumnya, pengajian ‘balagh Ramadlan’ kitab salaf di PP MUS akan diakhiri pada malam Selasa, bertepatan dengan 16 Ramadlan. Santri-santri akan ziarah bersama di maqbaroh mbah Him –sapaan akrab KH Abdurrohim Ahmad- terlebih dahulu yang dipimpin langsung KH M Said, sebelum akhirnya pulang ke kampung halamannya masing-masing. (f41q/ppmus.com)
