Get Adobe Flash player
Side Bar



Memuat

Kunjungan Alumni Rubath Madinah (II)


acara_malam_320x200

Sarang, Para Alumni Rubath Madinah sesaat setelah mengadakan sowan di Kediaman KH. Maimoen Zubair, pada pukul 19.05 WIB melakukan kunjungan di Ma’had Tarbiyatul Athfal (MTA), MTA adalah Komplek khusus santri “anak-anak” PPMUS. Seperti halnya acara sore di aula utama PPMUS, dalam kunjungan di MTA juga diadakan ceramah yang kali ini disampaikan oleh Habib Abu Bakar Assegaf dari Solo, isi dari ceramah yang disampaikan adalah sebagai penyemangat santri dalam bertholabul ilmi, beliau menyemangati santri untuk giat belajar selama masih di pondok, terutama belajar ilmu salaf salah satunya ilmu nahwu “Alumni pondok sini itu terkenal jago dalam ilmu nahwu” kata beliau. Meskipun ceramah yang disampaikan beliau kurang dari setengah jam, sekitar 120 santri MTA menyimaknya dengan antusias. Beliau juga menyampaikan keunggulan pendidikan pesantren salaf daripada pendidikan formal “pola pendidikan di pesantren salaf itu murottab, tertib, tidak seperti universitas” kata beliau. Sistem pendidikan yang tertib berjenjang di pesantren salaf bisa menjadikan ilmu melekat bila para santri bersungguh-sungguh. Acara yang diadakan di musholla itu, tepat pukul 19.30 WIB selesai dan ditutup dengan do’a. (ys)

 

Kunjungan Alumni Rubath Madinah (I)

acara_sore2

Sarang, Senin (30/1) Suasana di Aula I PPMUS tidak seperti biasa, sore itu terlihat ramai, para santri tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah berkumpul di Aula Utama yang terletak tepat di atas Kantor Harian PPMUS tersebut, mereka dengan antusias mendengarkan ceramah KH. Yahya Mutamakkin dari Semarang, yang merupakan alumni rubath Madinah, pada saat itu beliau juga didampingi oleh 7 teman sesama alumni Pondok Pesantren Madinah asal Indonesia. Acara tersebut merupakan salah satu rangkaian Acara yang diadakan oleh Alumni Rubath Madinah di Indonesia, acara yang digelar rutin tiga bulan sekali itu kali ini bertempat di kediaman Agus KH. M. Ahdal Abdurrochim, alumnus tahun 2010. Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB itu diikuti oleh sekitar 200 santri sehingga aula yang hanya berukuran 6 x 4 meter terlihat penuh sesak sampai para santri meluber ke teras aula. Acara ditutup dengan do’a pukul 17.00 WIB. (ys)


 

Menghidupkan Kembali Tradisi Salaf

PP MUS, Sarang – pengajian KH Muhammad Said Abdurrohim kembali menghadiran nuansa baru. Selesai membacakan kitab Ihya’ Ulumuddin karia al-Ghozaly tiga tahun terakhir, beliau berinisiatif ‘mendua’ dengan ringkasan kitab fenomenal itu. Adalah kitab “Mauidhotul Mukminin”, yang dipilih beliau untuk menggantikan kajian setiap pagi itu.

Selengkapnya...

 

Liputan Sidang Triwulan I

Sarang, Kamis (22/12) Pengurus Pondok Pesantren Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (PPMUS) mengadakan Sidang Triwulan I sebagai Evaluasi Program kerja selama tiga bulan terakhir, acara yang diadakan di Aula I PPMUS tersebut dihadiri oleh 69 peserta yang terdiri dari Pengurus Pusat & Komplek. KH. M. Sa’id Abdurrochim selaku Pengasuh PPMUS didampingi beberapa Pembantu Pengasuh yaitu KH. Faishol Mu’ith Zaini, KH. M. Ahdal Abdurrochim, K. Juwaini Hambali, K. M. Yasin & K. Luthfi juga hadir dalam acara yang digelar setelah Lailatul Ijtima’ tersebut atau sekitar pukul 20.30 WIB. Sidang yang dipimpin Ust. M. Ihsan pada sesi I serta Ust. Imam Thobaroni pada sesi II berlangsung khidmat dan menghasilkan beberapa kebijakan,

Selengkapnya...

 

Menata Kembali Kiprah Pesantren

Menata Kembali Kiprah Pesantren

(Rangkuman Mauidhoh KH M Said Abdurrohim; dalam Tri Wulan I tahun 2011)

Para teman-teman yang kami hormati, para dewan mustasyar dan juga para pengurus pondok yang –semoga- senantiasa tetap dalam lindungan serta hidayah Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa saat yang lalu kita semua telah mendengar laporan kinerja pengurus dalam waktu 3 bulan ini. Dari beberapa laporan itu ada sedikit kendala dan –alhaldulillah- telah kita carikan solusinya.

Para hadlirin yang kami hormati. . .

Kita semua patut bersyukur –kehadirat Allah- karena kita semua masih dapat berkhidmah (baca: meng-uri-uri agama Allah) dan ber-tafaqquh fiddin yang saat ini terbilang ghorib atau tidak populer. Akan tetap hal itu tidaklah menjadi kendala dan masalah bagi kita, sehingga kita tetap mempertahankannya ala as-salaf as-sholih. Materi-materinya pun kita yakini lebih afdlol. Karena menimbang muta’allaq-nya adalah Allah dan Rasul-Nya. Jadi, sebuah ilmu itu berkaitan sekali dengan muta’allaq-nya. Ini adalah suatu kenyataan yang benar-benar harus kita yakini kebenarannya. Namun begitu, bukan berarti kita menafikan (baca: meremehkan, merendahkan, menganggap tidak penting) ilmu-ilmu yang lain, ilmu umum, misalnya. Prinsip kita; belajar apapun adalah baik, asalkan tidak dilarang dan atau bertentangan dengan syari’at (baca; agama). Hanya saja, belajar ilmu agama itu lebih afdlol (lebih utama) ketimbang ilmu lain.

Selengkapnya...

 
Artikel yang lain...

Terbaru

Halaman Populer